Bugis,

.

.

Perbedaan Umum antara Skripsi, Tesis dan Disertasi

Tugas Akhir, Skripsi, Tesis, Disertasi - Jasa
Skripsi dijadikan syarat kelulusan di program S-1  dengan maksud memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk menunjukkan bahwa dia dapat menerapkan langkah-langkah pendekatan ilmiah untuk memperoleh pengetahuan dan melaporkannya secara tertulis.  Biasanya, dalam skripsi tidak dituntut adanya sintesis baru atau penemuan baru.Thesis dijadikan syarat kelulusan di program S-2 dengan maksud memberikan kesempatan kepda mahasiswa untuk menunjukkan bahwa dia dapat mebuat suatu sintesis baru atau penerapan pengetahuan yang sudah ada, dan melaporkannya secara tertulis.Disertasi dijadikan syarat kelulusan di program S-3 dengan maksud memberikan kesempatan kepda mahasiswa untuk menunjukkana bahwa dia memahami (mengikuti) perkembangan mutakhir pengetahuan ilmiah di bidang ilmunya  dan memberikan sumbangan pada perkembangan ilmu itu melalui penemuan baru yang orisinal yang dilaporkannya secara tertulis (http://www.pendidikanislam.net/index.php/untuk-siswa-a-mahasiswa/40-penelitian/60-skripsi-apakah-itu).

Pada dasarnya skripsi mahasiswa S1 merupakan ajang latihan bagi mahasiswa untuk melakukan penelitian secara obyektif. Oleh karena baru pertama sekali meneliti maka mahasiswa S1 ini sangat membutuhkan bimbingan dosen agar tidak melakukan kesalahan fatal yang menyebabkan mereka harus mengulang. Tesis S2 merupakan ajang peningkatan kemampuan mahasiswa dalam meneliti dan diharapkan mahasiswa sudah mampu meneliti dengan bimbingan yang minimal dari dosen. Desertasi S3 merupakan pembuktian kemampuan mahasiswa S3 dalam meneliti secara mandiri.

Secara sederhana, skripsi itu menjawab apa, tesis menjawab apa dan mengapa, Dan disertasi itu menjawab apa, mengapa dan bagaimana. Contoh tentang penelitian daun katuk dalam menurunkan kolesterol telur. Skripsi hanya menjawab pertanyaan apakah daun katuk menurunkan kolesterol telur? Tesis itu menjawab dua pertanyaan, yaitu a) apakah daun katuk menurunkan kolesterol telur dan; b) mengapa daun katuk menurunkan kolesterol. Disertasi menjawab 3 pertanyaan, yaitu: a) apakah daun katuk menurunkan kolesterol telur?; b) mengapa daun katuk menurunkan kolesterol telur? Dan; c) bagaimana cara (mekanisme) daun katuk menurunkan kolesterol telur?

Seringkali dosen pembimbing lupa akan hal tersebut, sehingga sering meminta mahasiswa meneliti lebih dari seharusnya. Apa alasannya? Pertama, mungkin dikarenakan ketidaktahuannya dan pengalamannya sebagai mahasiswa dulu juga seperti itu. Sebagai contoh, dosen pembimbing meminta mahasiswa S1 untuk menjawab selain apa juga mengapa. Kedua, dosen pembimbing sudah tahu hal ini tetapi dikarenakan ia menginginkan data penelitian lebih, maka ia memaksakannya pada mahasiswa bimbingannya. Mungkin sang dosen bermaksud data tersebut akan dipublikasikan dimana ia sebagai penulis utamanya. Mungkin juga dosen mempunyai alasan yang lain.

Apapun alasannya, sesungguhnya dosen tidak dibenarkan untuk memaksa mahasiswa di luar ketentuan atau kesepakatan yang berlaku. Jika menginginkan data yang lebih akurat dan lebih banyak untuk menjawab permasalahan yang ada, maka sebaiknya dosen membuat proposal penelitian sendiri dan mengajukannya ke Dikti atau ke penyandang dana lainnya. Ia harus berkompetisi untuk memperoleh dana penelitian.

Tabel 1.  Perbedaan Umum antara Skripsi, Tesis dan Disertasi

No Aspek Skripsi Tesis Disertasi
1 Jenjang S1 S2 S3 (tertinggi)
2 Permasalahan Dapat diangkat dari pengalaman empirik, tidak mendalam Diangkat dari pengalaman empirik, dan teoritik, bersifat  mendalam Diangkat dari kajian teoritik yang didukung fakta empirik, bersifat sangat mendalam
3 Kemandirian penulis 60% peran penulis, 40% pembimbing 80% peran penulis, 20% pembimbing 90% peran penulis, 10% pembimbing
4 Bobot Ilmiah Rendah – sedang Sedang – tinggi.  Pendalaman / pengembangan terhadap teori dan penelitian yang ada Tinggi, Tertinggi dibidang akademik.   Diwajibkan mencari terobosan dan teori baru dalam bidang ilmu pengetahuan
5 Pemaparan Dominan deskriptif Deskriptif dan Analitis Dominan analitis
6 Model Analisis Rendah – sedang Sedang – tinggi Tinggi
7 Jumlah rumusan masalah Sekitar 1-2 Minimal 3 Lebih dari 3
8 Metode / Uji statistik Biasanya  memakai uji Kualitatif / Uji deskriptif, Uji statistik parametrik (uji 1 pihak, 2 pihak), atau Statistik non parametrik (test binomial, Chi kuadrat, run test), uji hipotesis komparatif, uji hipotesis asosiatif, Korelasi, Regresi, Uji beda, Uji Chi Square, dll Biasanya memakai uji Kualitatif  lanjut  /  regresi ganda, atau korelasi ganda, mulitivariate, multivariate lanjutan (regresi dummy, data panel, persamaan simultan, regresi logistic, Log linier analisis,  ekonometrika static & dinamik, time series ekonometrik) Path analysis, SEM Sama dengan tesis dengan metode lebih kompleks, berbobot yang bertujuan mencari terobosan dan teori baru dalam bidang ilmu pengetahuan
9 Jenjang Pembimbing/ Penguji Minimal Magister Minimal Doktor dan Magister yang berpengalaman Minimal Profesor dan Doktor  yang berpengalaman
10 Orisinalitas penelitian Bisa replika penelitian orang lain, tempat kasus berbeda Mengutamakan orisinalitas Harus orisinil
11 Penemuan hal-hal yang baru Tidak harus Diutamakan Diharuskan
12 Publikasi hasil penelitian Kampus Internal dan disarankan nasional Minimal Nasional Nasional dan Internasional
13 Jumlah rujukan / daftar pustaka Minimal 20 Minimal 40 Minimal 60
14 Metode / Program statistik yang biasa digunakan Kualitatif / Manual, Excel, SPSS dll Kualitatif lanjut / SPSS, Eview, Lisrel, Amos dll Kualitatif lanjut / SPSS, Eview, Lisrel, Amos dll


Perbedaan Skripsi, Tesis, dan Disertasi
Secara umum, perbedaan antara skripsi, tesis, dan disertasi dapat dilihat dari dua aspek, yaitu aspek kuantitatif dan aspek kualitatif. Dari aspek kuantitatif, secara literal dapat dikatakan bahwa disertasi lebih berat bobot akademisnya daripada tesis dan tesis lebih berat bobot akademisnya daripada skripsi. Ketentuan ini hanya dapat diberlakukan untuk jenis karya ilmiah yang sama (sama-sama hasil penelitian kuantitatif atau sama-sama hasil penelitian kualitatif; dan dalam bidang studi yang sama pula (misalnya sama-sama tentang bahasa atau sama-sama tentang ekonomi). Artinya, disertasi mencakup bahasan yang lebih luas daripada tesis, dan tesis mencakup bahasan yang lebih luas atau lebih dalam daripada skripsi. Namun ukuran kuantitas ini tidak dapat diberlakukan jika skripsi, tesis, dan disertasi dibanding-bandingkan antarbidang studi atau antarjenis penelitian. Oleh karena itu perbedaan skripsi, tesis, dan disertasi biasanya tidak hanya dilihat dari aspek kuantitatif, tetapi lebih banyak dilihat dari aspek kualitatif.

Pada dasarnya, aspek-aspek kualitatif yang membedakan skripsi, tesis, dan disertasi dapat dikemukakan secara konseptual, namun sulit untuk dikemukakan secara operasional. Berikut dikemukakan aspek-aspek yang dapat membedakan skripsi, tesis, dan disertasi, terutama yang merupakan hasil penelitian kuantitatif.

Aspek Permasalahan


Penulis disertasi dituntut untuk mengarahkan permasalahan yang dibahas dalam disertasinya agar temuannya dapat memberikan sumbangan "asli" bagi ilmu pengetahuan, sedangkan penulis tesis diharapkan dapat menghasilkan sesuatu yang memberikan sumbangan bagi ilmu pengetahuan. Sumbangan yang demikian itu tidak dituntut dari penulis skripsi.

Identifikasi masalah untuk skripsi dapat didasarkan atas informasi dari koran, majalah, buku, jurnal, laporan penelitian, seminar, atau keadaan lapangan, akan tetapi identifikasi masalah untuk tesis—terlebih lagi untuk disertasi—perlu didasarkan atas teori-teori yang berasal dari sejumlah hipotesis yang telah teruji. Masalah yang dikaji dalam skripsi cenderung pada masalah-masalah yang bersifat penerapan ilmu, sedangkan dalam tesis dan disertasi harus cenderung ke arah pengembangan ilmu.

Aspek Kajian Pustaka

Dalam mengemukakan hasil kajian pustaka, penulis skripsi hanya diharapkan untuk menjelaskan keterkaitan antara penelitian yang dilakukan dengan penelitian-penelitian lain dengan topik yang sama. Penulis tesis tidak hanya diharapkan mengemukakan keterkaitannya saja, tetapi juga harus menyebutkan secara jelas persamaan dan perbedaan antara penelitiannya dengan penelitian lain yang sejenis. Penulis disertasi diharapkan dapat (a) mengidentifikasi posisi dan peranan penelitian yang sedang dilakukan dalam konteks permasalahan yang lebih luas, (b) mengemukakan pendapat pribadinya setiap kali membahas hasil-hasil penelitian lain yang dikajinya, (c) menggunakan kepustakaan dari disiplin ilmu lain yang dapat memberikan implikasi terhadap penelitian yang dilakukan, dan (d) memaparkan hasil pustakanya dalam kerangka berpikir yang konseptual dengan cara yang sistematis.

Pustaka yang dijadikan sumber acuan dalam kajian pustaka pada skripsi seyogyanya menggunakan sumber primer dan dapat juga menggunakan sumber sekunder, namun pustaka yang menjadi bahan acuan dalam tesis diharapkan berasal dari sumber-sumber primer (hasil-hasil penelitian dalam laporan penelitian, seminar hasil penelitian, dan jurnal-jurnal penelitian). Untuk disertasi, penggunaan sumber primer merupakan keharusan.

Aspek Metodologi Penelitian


Penulis skripsi dituntut untuk menyebutkan apakah sudah ada upaya untuk memperoleh data penelitian secara akurat dengan menggunakan instrumen pengumpul data yang valid. Bagi penulis tesis, penyebutan adanya upaya saja tidak cukup. Dia harus menyertakan bukti-bukti yang dapat dijadikan pegangan untuk menyatakan bahwa instrumen pengumpul data yang digunakan cukup valid. Bagi penulis disertasi, bukti-bukti validitas instrumen pengumpul data harus dapat diterima sebagai bukti-bukti yang tepat.

Dalam skripsi, penyimpangan-penyimpangan yang mungkin terjadi dalam pengumpulan data tidak harus dikemukakan, sedangkan dalam tesis dan terlebih lagi dalam disertasi penyimpangan yang mungkin terjadi dalam pengumpulan data harus dikemukakan, beserta alasan-alasannya, sejauh mana penyimpangan tersebut, dan sejauh mana penyimpangan tersebut masih dapat ditoleransi.

Asumsi-asumsi yang dikemukakan dalam skripsi tidak harus diverifikasi dan tidak harus disebutkan keterbatasan keberlakuannya, sedangkan asumsi-asumsi yang dikemukakan dalam tesis, terlebih lagi dalam disertasi, harus diusahakan verifikasinya dan juga harus dikemukakan keterbatasan keberlakuannya.

Dalam penelitian kuantitatif, skripsi dapat mencakup satu variabel saja, tesis dua variabel atau lebih, sedangkan disertasi harus mencakup lebih dari dua variabel. Namun kriteria ini harus disesuaikan dengan permasalahan yang dikaji. Dalam penelitian kualitatif, skripsi dapat ditulis berdasarkan studi kasus tunggal dan dalam satu lokasi saja, sedangkan tesis dan terutama disertasi seyogyanya didasarkan pada studi multikasus dan multisitus.

Aspek Hasil Penelitian

Hasil penelitian yang dipaparkan dalam kesimpulan skripsi harus didukung oleh data yang diperoleh dari penelitian yang dilakukan. Dalam tesis dan disertasi, hasil penelitian yang dikemukakan, selain didukung oleh data yang diperoleh dari penelitian yang dilakukan, juga harus dibandingkan dengan hasil penelitian lain yang sejenis. Oleh karena itu dalam tesis dan disertasi perlu ada bab tersendiri yang menyajikan pembahasan hasil penelitian. Bab yang berisi pembahasan hasil penelitian diletakkan sesudah bab yang berisi sajian hasil analisis data, sebelum bab yang berisi kesimpulan dan saran.

Pengajuan saran pada bagian akhir skripsi tidak harus dilengkapi dengan argumentasi yang didukung oleh hasil penelitian, sedangkan saran-saran yang dikemukakan dalam tesis dan disertasi harus dilengkapi dengan argumentasi yang didukung oleh hasil-hasil penelitian yang telah dilakukan.

Hasil penelitian skripsi yang ditulis dalam bentuk artikel hendaknya diarahkan untuk da­pat diterbitkan dalam jurnal ilmiah yang bermutu, sedangkan hasil penelitian tesis dan disertasi harus memenuhi kualifikasi layak terbit dalam jurnal ilmiah yang bermutu.


Aspek Kemandirian

Selain didasarkan pada keempat aspek tersebut, skripsi, tesis, dan disertasi juga dapat dibedakan berdasarkan tingkat kemandirian mahasiswa dalam proses pelaksanaan penelitian dan penulisan naskah karya ilmiah. Secara umum dapat dinyatakan bahwa proses penelitian dan penulisan disertasi lebih mandiri daripada tesis, dan proses penelitian dan penulisan tesis lebih mandiri daripada skripsi. Secara kuantitatif dapat diilustrasikan sebagai berikut. Untuk disertasi kira-kira 90% dari naskah tersebut adalah karya asli mahasiswa penulisnya, sedangkan sisanya (10%) merupakan cerminan dari bantuan, bimbingan, serta arahan para dosen pembimbing. Untuk tesis, persentase karya asli mahasiswa bisa lebih kecil daripada disertasi; dan untuk skripsi, persentase karya asli mahasiswa bisa lebih kecil daripada tesis.

Artikel, Makalah, dan Laporan Penelitian

Artikel ilmiah adalah karya tulis yang dirancang untuk dimuat dalam jurnal atau buku kumpulan artikel yang ditulis dengan tata cara ilmiah dan mengikuti pedoman atau konvensi ilmiah yang telah disepakati atau ditetapkan. Artikel ilmiah yang ditulis oleh mahasiswa, dosen, pustakawan, peneliti, dan penulis lainnya dapat diangkat dari hasil penelitian lapangan, hasil pemikiran dan kajian pustaka, atau hasil pengembangan proyek. Dari segi sistematika penulisan dan isinya, artikel dapat dikelompokkan menjadi dua macam, yaitu artikel hasil penelitian dan artikel nonpenelitian. Setiap mahasiswa penulis skripsi, tesis, dan disertasi sangat dianjurkan menuliskan kembali karyanya dalam bentuk artikel untuk diterbitkan dalam jurnal. Tata cara penulisan artikel ilmiah diuraikan pada Bagian III buku pedoman ini.

Makalah adalah karya tulis yang memuat pemikiran tentang suatu masalah atau topik tertentu yang ditulis secara sistematis dan runtut dengan disertai analisis yang logis dan objektif. Makalah ditulis untuk memenuhi tugas terstruktur yang diberikan oleh dosen atau ditu­lis atas inisiatif sendiri untuk disajikan dalam forum ilmiah.

Laporan penelitian adalah karya tulis yang berisi paparan tentang proses dan hasil-hasil yang diperoleh dari suatu kegiatan penelitian.
Source

Menyikapi Dinamika Pergerakan Mahasiswa

 I. Pendahuluan
Sebelum melangkah dan memasuki dunia kemahasiswaan, seorang mahasiswa baru harus memahami tentang dirinya sebagai person dan makhluk sosial, dinamika kehidupan mahasiswa sebagai kaum terpelajar dan situasi dan kondisi bangsa sebagai bagian dan pelanjut bangsa ini.
Dalam dunia kemahasiswaan, akan terjadi dinamika dalam kampus dan kehidupan bermasyarakat. Hal ini tidak dapat dipisahkan karena posisi dan peran ganda seorang mahasiswa. Fenomena ini didasari oleh pluralitas, idealisme dan sistem yang berlaku. Terjadinya benturan antara nilai-nilai kebenaran ilmiah dan etika yang didapatkan di bangku kuliah dengan kerancuan sistem dan otoriterisme penguasa mendorong mahasiswa untuk melakukan gerakan pembaharuan yang didasarkan oleh idealisme dan kekuatan moral. Akar gerakan mahasiswa adalah penumbuhan kesadaran terhadap nilai-nilai kebenaran dan tanggung jawab moral untuk mewujudkan kebenaran tersebut.
Bentuk paling ekstrim dari gerakan pembaharuan ala mahasiswa adalah demonstrasi dan militansi mahasiswa. Tidak jarang materi bahkan jiwa mesti dikorbankan untuk arti sebuah nilai kebenaran.

II. Identitas Mahasiswa

Identitas Mahasiswa terdiri dari kata “Identitas” yang berarti ciri atau syarat yang harus dimiliki oleh sesuatu sehingga sesuatu itu dapat dibedakan dengan yang lain, dan kata “Mahasiswa” yang arti formalnya adalah seseorang yang terdaftar disuatu Perguruan Tinggi pada semester berjalan dan makna filosofisnya adalah seorang yang mencari tahu tentang kebenaran dan berusaha mewujudkan kebenaran tersebut.
Jadi, makna Identitas Mahasiswa adalah ciri-ciri atau syarat yang harus dimiliki oleh seorang mahasiswa. Dengan kejelasan Identitas Mahasiswa ini, sehingga mahasiswa dapat dibedakan dengan murid SD, pelajar SLTP dan siswa SMU.
Secara formal, ciri-ciri seorang mahasiswa yaitu memiliki kartu mahasiswa sebagai simbol dan legitimasinya. Namun secara filosofis ciri-ciri seorang mahasiswa sebagai berikut:
1) Rasional 6) Radikal
2) Cerdas 7) Idealis
3) Inovatif 8) Kritis
4) Kreatif 9) Revolusioner
5) Intelek 10) Militan

Ciri-ciri yang disebutkan diatas hanyalah sekelumit dari sekian banyak ciri-ciri mahasiswa yang menjadikan mahasiswa tidak hanya sebagai kaum intelektual tapi juga sebagai sosial kontrol dalam suatu komunitas.
Sebagai mahasiswa, tidak hanya harus mengenal identitasnya, tapi juga harus mengetahui tipenya. Pluralitas lingkungan yang membentuk mahasiswa menjadikan tipe dan karakter mahasiswa berbeda-beda. Secara umum tipe dan karakter mahasiswa dapat dibagi sebagai berikut :
1) Tipe Akademik : Mahasiswa yang hanya memfokuskan diri pada kegiatan akademik dan cenderung apatis terhadap kegiatan kemahasiswaan dan kondisi masyarakat.
2) Tipe Organisatoris : Mahasiswa yang memfokuskan diri pada kelembagaan baik didalam maupun diluar kampus, peka terhadap kondisi sosial dan cenderung tidak mengkonsentrasikan diri pada kegiatan akademik.
3) Tipe Hedonis : Mahasiswa selalu mengikuti trend dan mode tapi cenderung apatis terhadap kegiatan akademik dan kemahasiswaan.
4) Tipe Aktivis Mahasiswa : Mahasiswa yang memfokuskan diri pada kegiatan akademik kemudian berusaha mentrasformasikan “kebenaran ilmiah” yang didapatkan ke masyarakat melalui lembaga dan sebagainya dan berusaha memperjuangkannya.

III. Posisi dan Peran Mahasiswa
Sifat dasar mahasiswa adalah mencari kebenaran dan mewujudkan kebenaran tersebut. Kadang suatu “kebenaran” ala mahasiswa terbentur dengan sistem yang diterapkan penguasa. Konsekwensi langsung dari hal tersebut adalah gerakan pembaharuan terhadap ketimpangan yang terjadi. “Pengawal Utama” dari gerakan mahasiswa adalah nilai-nilai kebenaran ilmiah dan norma-norma etika.
Hal tersebut kemudian menjadikan posisi dan peran ganda mahasiswa. Posisi ganda mahasiswa adalah sebagai kaum terpelajar/intelek sekaligus penyambung lidah rakyat atau DPR jalanan. Sedang peran ganda mahasiswa adalah sebagai pencari ilmu sekaligus agen pembaharu atau sosial kontrol.
Mahasiswa sebagai kaum intelektual mempunyai tanggung jawab moral untuk memperjuangkan hak-hak rakyat dan mengaplikasikan nilai-nilai kebenaran untuk kepentingan rakyat walau harus berbenturan dengan penguasa.
Secara umum strata kehidupan berbangsa dapat digambarkan seperti piramida diatas. Rakyat sebagai mayoritas penduduk adalah elemen dasar suatu negara. Sedang Eksekutif sebagai pemegang kekuasaan tertinggi. Pihak Legislatif sebenarnya berfungsi sebagai penyampai aspirasi rakyat kepada eksekutif.
Tapi ketika pihak legislatif mandul dan cenderung melupakan tanggung jawabnya dan justru memperjuangkan kepentingannya sebagai elit politik maka pada saat itu mahasiswa harus memperjuangkan rakyat.

IV. Sejarah Pergerakan Mahasiswa Indonesia

Perjalanan sejarah pergerakan mahasiswa indonesia dimulai sekitar tahun 1908-an yang ditandai dengan didirikannya Budi Utomo. Pelopor pergerakan tersebut adalah mahasiswa yang tercerahkan dan memaknai serta memahami arti suatu persatuan menuju kemerdekaan.
Tidak dapat dipungkiri bahwa bentuk pergerakan mahasiswa sangat tergantung pada kondisi sosial yang terjadi pada saat itu walau intinya satu yaitu “Pembaharuan”. Pergerakan mahasiswa pada tahun 1928 dan tahun 1998 adalah suatu contoh perbedaan akibat kondisi sosial yang terjadi.
Titik klimaks dari perjuangan mahasiswa Indonesia adalah pada tahun 1966 dan tahun 1998, dimana dua rezim otoriter pada saat itu berhasil di runtuhkan. Adapun tahun-tahun bersejarah bagi pergerakan mahasiswa Indonesia adalah :

1.) 1908 : Terbentuknya Budi Utomo
2.) 1928 : Sumpah Pemuda
3.) 1945 : Proklamasi dan Perjuangan fisik
4.) 1966 : Tritura dan runtuhnya rezim Orde Lama
5.) 1974 : Peristiwa Malari
6.) 1978 : Pembelengguan kemerdekaan mahasiswa melalui NKK/BKK
7.) 1998 : Aksi Reformasi dan Tragedi Semanggi

Kesuksesan aksi reformasi yang mengorbankan beberapa mahasiswa, tidak berarti perjuangan telah berakhir. Tidak menutup kemungkinan, ketika terdapat ketimpangan akibat ulah penguasa, kita sebagai mahasiswa harus kembali ke jalan untuk menjadi agen pembaharu pembangunan.

V. Peran Mahasiswa Politeknik

Jalur pendidikan tinggi terbagi dua yaitu jalur pendidikan akademis yang menekankan pada pengembangan penalaran seperti Universitas dan Institut, dan jalur profesional seperti Politeknik dan Akademi. Sistem pendidikan di Politeknik yang lebih singkat dan padat dibanding perguruan tinggi lain menyebabkan karakter mahasiswa Politeknik sedikit berbeda dengan mahasiswa lain.
Mahasiswa Politeknik sebagai bagian dari mahasiswa Indonesia mempunyai tanggung jawab moral untuk membela nasib rakyat Indonesia. Disamping itu, mahasiswa Politeknik juga bertanggungjawab untuk menguasai skill dibidangnya yang nantinya juga akan diterapkan di masyarakat. Situasi yang dilematis ini menyulitkan mahasiswa Politeknik untuk berkembang dan mewujudkan idealisme nya. Tapi hal tersebut bukanlah alasan untuk meninggalkan idealisme mahasiswa.
Jadi peranan mahasiswa Politeknik untuk bangsa bukan sekedar belajar dan berjuang, tapi juga mengaplikasikan nilai-nilai kebenaran yang telah didapatkan.

VI. Penutup

Nilai-nilai kebenaran ilmiah yang didapatkan mahasiswa dibangku kuliah kemudian melandasi cara berpikir dan bertindak mahasiswa termasuk dalam menyikapi kondisi sosial masyarakat. Nilai-nilai kebenaran ilmiah ini kemudian melahirkan suatu “Idealisme Mahasiswa”
Konsekuensi logis dari idealisme mahasiswa ialah tanggungjawab sebagai seorang yang menuntut ilmu harus dipenuhi dan peran sebagai sosial kontrol harus tetap dijaga.
Dalam peran sebagai sosial kontrol, tidak jarang mahasiswa harus berbenturan langsung dengan aparat sebagai kaki tangan penguasa. Pada kondisi seperti ini kita sebagai mahasiswa akan diperhadapkan pada penindasan dan perlawanan yang nantinya kita akan memilih antara “Lawan atau Tertindas”
Mahasiswa sebagai penerus roda pembangunan dituntut untuk memberikan yang terbaik untuk Republik ini baik skill, ilmu, materi atau bahkan darah kita.

Peran Pendidikan dalam Upaya Pelestarian Budaya

 Mencari Titik Temu Antara Aspek Pendidikan, Pelestarian Budaya dalam Menghadapi Era Globalisasai
Pendahuluan
Arus globalisasi yang seiring dengan perkembangan teknologi, mengubah wajah dunia hari ini. Sehingga, bukan hanya jarak yang terasa dekat, tapi juga sekat-sekat antar kebudayaan dan peradaban semakin tipis.
Dari perkembangan tersebut, interaksi antar kebudayaan semakin intensif. Namun persoalannya, terjadi hegemoni terhadap satu kebudayaan terhadap kebudayaan lainnya. Dengan demikian, terjadi pengikisan terhadap budaya tradisional (folk culture). Parahnya, masyarakat kita mengalami Culture Shock dimana terjadi kekacauan budaya dari konfrontasi antar budaya. Menurut Samuel P. Huntington dalam bukunya Benturan Antar Peradaban dan Masa Depan Politik Dunia (2005:103) mengatakan :
Ekspansi Barat mampu menawarkan modernisasi dan westernisasi bagi masyarakat-masyarakat non-barat. Tokoh-tokoh politik dan intelektual dari masyarakat tersebut memberikan reaksi terhadap pengaruh barat satu atau lebih cara : menolak modernisasi dan westernisasi, menerima modernisasi dan westernisasi, menerima yang pertama menolak yang kedua Modernisasi sebagai anak kandung reinasans di Eropa, bukan hanya menawarkan mekanisasi produksi untuk meningkatkan hasil ekonomi. Akan tetapi membawa paradigma mekanistik dalam memandang manusia. Sehingga mengantarkan manusia pada jurang dehumanisasi, dimana akar spiritual dicerabut pada kemanusiaan.
Sementara disisi lain, berdasar logika oposisi biner modern-tradisional, maju-terkebelakang, barat-timur, rasional-irasional dan dikotomi lainnya, budaya barat memposisikan non barat sebagai terkebelakang dan mesti dimodernisasi. Dari pintu inilah, westernisasi membonceng di modernisasi.
Sehubungan dengan dehumanisasi yang diakibatkan oleh modernisasi dan westernisasi, Maurice Borrmans dalam sumbangan tulisannya pada buku Dialektika Peradaban (2002:108) berkomentar :
Dengan penyalahgunaan rasionalisme dan sekularismenya, Barat cenderung melakukan perbaikan kondisi kemanusiaan, kosong dari ajaran spiritual. Manusia dikorban di altar laba.
Sehubungan dengan hal ini, kita dapat menarik pendapat sementara bahwa, kebudayaan yang tidak berakar pada konsepsi makro kosmos dan keseimbangan semesta maka akan mengalami dehumanisasi dan mengantarkan manusia pada jurang kehancuran. Dalam buku Dasar-Dasar Komunikasi Antar Budaya (2003:137), Alo Liliweri mengatakan :
...setiap kebudayaan harus memiliki nilai-nilai dasar yang merupakan pandangan hidup dan sistem kepercayaan dimana semua pengikutnya berkiblat. Nilai dasar itu membuat para pengikutnya melihat diri mereka ke dalam, dan mengatur bagaimana caranya mereka keluar. Nilai dasar itu merupakan filosofi hidup yang mengantar anggotanya ke mana dia harus pergi...Melihat kebudayaan Bugis, khususnya Bone, maka kita akan menemukan nilai-nilai luhur yang begitu tinggi. Akan tetapi disisi lain, kita juga akan menemukan beberapa hal yang sudah tidak relevan lagi. Menjadi pertanyaan bagi kita semua hari ini adalah, bagaimana melakukan pemilahan terhadap kebudayaan kita sehingga hal-hal yang tidak relevan, ditinggalkan dan hal-hal yang masih relevan tetap dipertahankan. Pertanyaan ini juga berlaku untuk kebudayaan asing yang juga harus dipilah. Sehingga kebudayaan asing yang relevan, dapat kita serap dan kebudayaan asing yang tidak relevan dapat kita tolak.
Dalam Lontara’na Marioriwawo dari Pattoriolong Hingga Pangaderreng (2003:7), M. Rafiuddin menegaskan :
...Sangatlah disayangkan bila nilai-nilai budaya kita yang begitu tinggi harus hilang begitu saja, oleh kita sendiri, hanya karena kurangnya kepedulian masyarakat untuk mempelajari dan memahami secara benar sesuai apa yang diwariskan leluhur kita...”Dapat kita bayangkan bagaimana generasi bugis Bone beberapa puluh tahun kemudian, jika hari ini tidak kita mulai revitalisasi terhadap kebudayaan Bugis Bone. Misalnya, naskah lontara, pappaseng dan sebagainya akan dilupakan. Sehingga generasi penerus kita akan kehilangan identitas dan orang asinglah yang akan meletakkan identitas itu pada generasi kita.
Sekaitan dengan identitas masyarakat dengan sejarah, A.S. Kambie dalam Akar Kenabian Sawerigading (2003:35), mencoba menggunakan pisau analisis Nietszche tentang sejarah
...lewat sejarah artikularian, orang dapat menemukan kesinambungan hidupnya masa kini dengan kehidupan para pendahulunya.....dengan demikian sejarah artikularian ini mempunyai fungsi untuk menciptakan identitas, kemana masa depan harus diarahkan.,
Jika dikaitkan dengan pendidikan, menjadi penting nilai-nilai luhur kebudayaan ditransformasikan kepada generasi muda melalui jalur formal. Menurut Prof Mattulada dalam Latoa (1995:456) :
Manusia menjadi penentu atas hidup kebudayaannya Berdasar hal demikian, menjadi penting adanya usaha revitalisasi kebudayaan Bugis melalui jalur pendidikan formal selain usaha-usaha lainnya. Jika bukan manusia Bugis sendiri yang menjaga warisannya, maka tidak ada lagi nilai-nilai luhur yang menjadi identitas dan kepribadian.

Kerangka Kebangsaan Jika kita perhadapkan kebudayaan Bugis dengan semangat kebangsaan kita, dapat kita katakan bahwa ke-bhineka-an itu kurang diapresiasi. Malah yang diutamakan adalah semangat ke-tunggal ika-an. Ini tercermin pada penyeragaman pola pikir pada zaman Orde Baru. Sehubungan dengan hal ini, Irwan Abdullah (2006:66) menulis :
Sudah menjadi rahasia umum bahwa etnis mayoritas mendapatkan privilese – privelese dalam berbagai bentuk, sementara etnis yang tidak memiliki back up mengalami marginalisasi.
Disinilah letak kekeliruan yang dilakukan rezim Orde Baru dalam rangka membangun kepribadian dan kebudayaan bangsa melalui berbagai jalur, termasuk penataran P4. Sementara pada aspek bahasa, pemberlakuan bahasa Indonesia sebagai bahasa pemersatu, walau satu sisi telah memudahkan komunikasi antar anak bangsa, ternyata disisi lain justru menjadikan sekitar 500-an bahasa daerah dinusantara termarjinalisasi.
Parahnya, media justru memunculkan bahasa Indonesia yang tidak baku dialek Jakarta sebagai standarisasi bahasa gaul anak muda. Akibatnya, generasi muda kurang mengenal bahasa daerahnya. Konsekwensinya adalah bahasa daerah terancam punah. Sejalan dengan pendapat Andi Amriadi Ali (1999:13) bahwa :
“...mereka sudah lupa, malu dan kurang menghargai bahasa daerah. Padahal nilai-nilai budaya yang bagus dan mampu disumbangkan pada bangsa ini untuk menjadi ramuan bagi kebudayaan Indonesia yang akan datang. Jangan sampai dilupakan sebaga itu harus diwariskan...” Dari aspek bahasa saja, kita telah mendapat sinyal untuk segera bereaksi terhadap fenomena ini. Bagaimana jika kita tinjau aspek lain dari kebudayaan. Maka hal ini, menjadi niscaya bagi kita saat ini untuk merevitalisasi kebudayaan kita dengan berdasar konsepsi kesejarahan dan konteks kekinian agar generasi muda Bone tidak kehilangan identitas dan mampu duduk sejajar dalam kerangka kebangsaan. Serta, menjadi warga dunia yang siap dengan perkembangan zaman tapi memiliki semangat sebagai Bugis Bone dalam kerangka multikulturalisme dan demokrasi.
Namun persoalan besar bagi kita semua adalah bagaimana membangun keseimbangan antara indentitas kedaerahan dan kebugisan sehingga tidak menciptakan arogansi kedaerahan atau kesukuan yang justru dapat menjadi pemicu konflik. Tapi disisi lain, bukan atas dasar nasionalisme yang kaku sehingga Budaya Bugis khususnya Bone justru terlupakan. Padahal kebudayaan Indonesia tersusun dari ratusan suku dan budaya termasuk Bugis khususnya Bone.
Untuk merealisasikan gagasan tersebut, tentu harus mengembangkan metode yang tepat dan melibatkan segenap pihak yang terkait dan bergerak secara sinergis. Dengan adanya keterbukaan di era reformasi ini, membuka peluang bagi kita semua untuk mengangkat kembali “harta karun” manusia Bugis yang terpendam dalam naskah klasik yang terlalu disakralkan sehingga tak terbaca, untuk muncul kepermukaan agar dapat ditransformasikan pada generasi selanjutnya.

Sekelumit tentang Sejarah dan Budaya Membahas tentang sejarah dan kebudayaan mestilah secara terpisah kemudian dipadukan. Sebab pembauran secara serampangan akan menyebabkan kita sulit untuk memahami sejarah dan budaya itu sendiri
Sejarah dalam persepsi Muththari terbagi tiga. Yaitu sejarah tradisional yang membahas tentang artefak dan bukti bukti kesejarahan. Kedua, sejarah ilmiah yaitu membahas tentang hubungan aksiden kesejarahan dimasa lalu dengan kondisi kekinian. Ketiga yaitu Filsafat sejarah, yaitu membahas tentang hal-hal yang mempengaruhi gerak sejarah itu sendiri.
Terkadang ada diantara kita (tapi tidak semua) yang terjebak pada sejarah tradisional. Padahal, artefak maupun aksiden dimasa lalu adalah hal yang sudah berlalu. Semestinya, menjadi bahan analisis kita dalam melihat wajah zaman hari ini dan bahan analisis dalam memprediksikan kondisi masa depan.
Jika kita menarik sejarah untuk konteks lokal, biasanya sejarah lokal kita terdiri dari beberapa versi. Kalaupun ada kesamaan data sejarah, tapi peluang untuk berbeda interpretasi juga terbuka luas.
Perbedaan pendapat juga muncul karena sejarah lokal sebelum fase kolonial tidak mencatat tahun. Sehingga untuk menghitung mundur, diratakan 25 (Prof A. Zainal) atau 30 (Ian Caldwell) jumlah generasi sebelumnya.
Seperti sejarah terbentuknya Kerajaan Bone, terjadi perbedaan persepsi tentang siapa raja bone pertama. Atau misalnya masa transisi dari Arumpone ke-13 La Maddaremmeng ke Arumpone 15 (17?) La Tenritatta Arung Palakka.
Sedangkan data sejarah yang sama tapi interpretasi berbeda ; misalnya posisi La Tenritatta Daeng Serang Petta MalampeE Gemme’na Arung Palakka, diinterpretasi sebagai pahlawan dan dilain sisi diinterpretasi sebagai pengkhianat .
Hal yang menarik adalah epos I La Galigo. Dalam Manusia Bugis, Pelras menulis (2006:54) :
Kebanyakan ilmuwan barat dewasa ini memandang seluruh siklus Lagaligo sebagai mitos belaka. Mereka menafikan kemungkinan untuk memanfaatkan teks itu sebagai sumber informasi yang layak.......oleh karena itu saya berpendapat bahwa tidak adanya sumber-sumber lain yang dapat diandalkan seyogyanya justru membuat Lagaligo tidak (dapat) diabaikan. Walaupun pemanfaatan teks itu memerlukan kecermatan yang tinggi.
Perdebatan Pelras dengan ilmuwan barat lainnya adalah kemungkinan diterimanya naskah Lagaligo sebagai data kesejarahan, meski Pelras tetap menggaris bahwa adanya kecermatan. Dari hal diatas, dapat dipahami adanya perbedaan yang disebabkan oleh kerangka metodologis (Prof. A. Zainal dengan Ian Caldwell. Atau Pelras dengan Ilmuwan barat lain). Ada juga perbedaan tafsir politis
Versi yang berbeda, mengindikasikan adanya dominasi untuk merekonstruksi sejarah. Interpretasi yang berbeda, mengindikasikan perbedaan perspektif dan usaha untuk hegemoni. Dari sini, mengungkap sejarah berarti membuat forum perdebatan. Jika tidak dikelola dengan baik, justru akan dapat menciptakan potensi konflik dilevel grass root. Kita bisa bayangkan, bagaimana sekiranya masyarakat fanatik buta terhadap satu versi atau penafsiran sementara masyarakat lain justru berbeda. Maka, bukannya kita menjaga aset sejarah dan menjadikannya bahan analisis dan spirit, malah kita justru merusak stabilitas masyarakat. Tentu kita tidak ingin hal ini terjadi.
Aksiden sejarah 300-an tahun yang lalu, dapat menciptakan konflik hari ini. Apalagi sejarah 50-60 an tahun yang lalu yang masih segar diingatan orang tua kita . Karena ada luka lama yang justru akan parah jika mengangkat dipermukaan secara gegabah. Menokohkan pelaku sejarah secara berlebihan dapat saja memunculkan fanatisme buta sehingga tercipta arogansi sejarah. Melecehkan pelaku sejarah, dapat saja memunculkan ketersinggungan Sampai di tahap ini, semua pihak yang berkaitan mestinya arif dalam melihat sejarah. Sehingga tidak ada lagi yang arogan dan tidak ada lagi yang tersinggung. Dengan demikian ketokohan pelaku sejarah menjadi spirit bagi generasi hari ini untuk membangun zamannya.



Kebudayaan lahir dari pengetahuan logika (benar-salah), etika (baik-buruk) dan estetika (indah-jelek) suatu kelompok manusia yang kemudian dibiasakan dari generasi ke generasi. Tiap suku, kaum atau komunitas, membangun kebudayaannya masing-masing selama beberapa generasi. Lebih lanjut, Prof Dr. Irwan Abdullah dalam bukunya Konstruksi dan Reproduksi kebudayaan (2006:51) menegaskan :
Kebudayaan bagi suatu masyarakat bukan sekedar sebagai frame of reference yang menjadi pedoman tingkah laku dalam berbagai praktik sosial, tetapi lebih sebagai “barang” atau materi yang berguna dalam proses identifikasi diri dan kelompok. Sebagai kerangka acuan kebudayaan telah merupakan serangkaian nilai yang disepakati dan yang mengatur bagaimana sesuatu yang bersifat ideal diwujudkan.
Kebudayaan ini berkembang sebagai hasil interaksi manusia dengan sesama manusia, dengan alam sekitar dan dengan penciptanya (perkecualian untuk budaya materialisme barat yang tidak berurusan dengan Tuhan)
Budaya Bugis berakar dari konsep ketuhanannya, yaitu Dewata SeuwaE yang kemudian diturunkan pada konsepsi kosmologi semesta yang terdiri dari tiga alam botinglangi, ale kawa, buri’ liu. Dari sini kemudian masuk pada falsafah sulapa eppa . Kemudian masuk pada nilai-nilai, norma atau sering disebut pangadereng). Lebih lanjut lagi, maka kita akan sampai pada kesenian dan kebudayaan material.
Setelah Islamisasi pada abad 17, terjadi akulturasi antara budaya lokal dengan ajaran Islam. Islam terdiri dari berbagai ragam penafsiran penganutnya, sehingga penafsiran terhadap Islam ini mempengaruhi pendapat seseorang terhadap akulturasi ini. Sehingga muncul penyikapan yang berbeda, mulai yang paling ekstrim, misalnya Operasi Toba yang dilancarkan DI/TII yang berpengaruh terhadap eksistensi Bissu, atau paling kooperatif terhadap tatanan klasik, yaitu mengakui kepercayaan pra Islam. Hal ini adalah hal yang sangat sensitif, dan mesti semua pihak arif dalam bersikap.


Manusia Bugis, selain memiliki tradisi lisan juga memiliki tradisi tulis.Adanya aksara lontara menjadi bukti bahwa manusia Bugis memiliki kebesaran. Karena tidak semua suku atau kebudayaan memiliki aksara tersendiri. Karya tulis manusia Bugis dahulu bukan hanya berkaitan dengan silsilah, tapi juga kronologi, astronomi/ramalan, naskah pertanian dan sebagainya. Bahkan, kita memiliki epos terbesar didunia sebagai warisan kita.
Sangat disayangkan jika anak-anak kita lebih mengenal tokoh kartun seperti Naruto, Batman dan sebagainya ketimbang mengenal kisah Meong Palo KarellaE. Bahkan banyak anak-anak kita yang kurang mengenal keluarga dan sahabat Nabinya dan lebih mengenal penyanyi dangdut atau artis Sinetron dan peserta Indonesia Mencari Bakat.
Sementara budaya bugis tengah terkikis oleh budaya asing, minat untuk melestarikan budaya generasi muda sangat kurang. Budaya Bugis diambang kehancuran, jika semua pihak tidak segera bersama-sama bekerja sesuai porsi masing-masing untuk menjaga aset budaya.
Banyak nilai-nilai kebudayaan Bugis yang relevan untuk ditransformasikan untuk generasi muda. Sebagai contoh, konsepsi siri’ na pesse atau konsepsi kepemimpinan sangat relevan untuk kembali dihidupkan. Konsep dalam berinteraksi (sipakatau, sipalebbi, sipakainge) yang melahirkan konsep (mappasitinaja) juga masih relevan. Pertanyaan terbesar kita hari ini adalah bagimana mentransformasikan nilai-nilai kebudayaan sehingga lahir generasi manusia bugis Bone yang tanggap terhadap perkembangan zaman tapi tidak kehilangan identitas dan nilai kebugisannya ?.

Pentingnya Pembangunan Sektor Pendidikan Pendidikan untuk memanusiakan manusia secara filosofis dan mencerdaskan kehidupan bangsa secara normatif. Sebagai sebuah proses, tentu tidak dilihat hasilnya dalam waktu singkat. Pendidikan adalah investasi jangka panjang bagi sebuah bangsa. Berhasil tidaknya proses pendidikan akan mempengaruhi martabat bangsa dimata bangsa lainnya.
Sebelum reformasi, pendidikan kita adalah proses penyeragaman cara berpikir. Misalnya dalam pendidikan bahasa Indonesia, dari Sabang sampai Merauke memulai dengan ini budi. Padahal ada banyak tokoh lain yang bisa diangkat. Misalnya Ini Ucok, Ini Baco, Ini Ujang, Ini Denias dan sebagainya.
Pelajaran bahasa dan sastra pun itu-itu saja. Seolah-olah tidak ada sastra dari kebudayaan lain. Padahal, Indonesia ini dibentuk 500-an suku yang memiliki tradisi sastra tersendiri.
Pendidikan Pancasila dan kewarganegaraan selalu menggunakan peristilahan yang berbahasa sangsekerta. Padahal, bahasa sangsekerta murninya dari India, bukan bahasa asli Indonesia. Kalaupun ada bahasa yang berasal dari salah satu suku di Indonesia, kita tidak akan menemukan kata siri na pesse’, pela gandong dan kearifan lainnya. Seolah-olah nilai dasar kebangsaan kita dibentuk dari kearifan satu suku saja.
Dalam pelajaran sejarah, petikan tentang sejarah Sulawesi hanya sekilas mengulas perang Makassar yang menokohkan peran protagonis kepada Sultan Hasanuddin dan peran antagonis kepada Arung Palakka. Sementara, kita harus menghapal raja-raja Singasari, Majapahit, Demak, Mataram dan sebagainya. Bahkan, pelajaran sejarah hanya mengulas pergerakan kemerdekaan di Jawa seolah-olah tidak ada orang luar Jawa yang berperang disana. Dan parahnya, sejarah pasca kemerdekaan adalah sejarah pemberontakan rakyat Aceh (DI-TII Daud Berueh), Sunda (DI-TII Kartosuwiryo), Banjar (DI-TII Ibnu Hajar), Sulawesi Selatan (DI-TII Kahar Muzakkar, Kapten Andi Azis), Sulawesi Utara (PRRI-Permesta), Ambon (RMS). Hanya PKI saja di Jakarta. Coba kita bandingkan peristiwa 10 November di Surabaya yang menjadi peringatan hari Pahlawan. Atau Serangan Oemoem 1 Maret di Jogja. R. A. Kartini, seorang bangsawan jepara, hanya mengirim surat kepada Belanda, malah dianggap pahlawan nasional dan hari lahirnya dijadikan hari perempuan Indonesia. Ini sungguh tidak sebanding dengan keringat dan darah Cut Nya Dien atau Laksamana Malahayati yang sekedar dianggap pahlawan biasa
Belum lagi klaim bahwa Nusantara pernah bersatu dibawah Sriwijaya dan Majapahit. Padahal sepanjang pengetahuan penulis, ini adalah klaim sepihak yang kebenaran sejarahnya belum dikonfirmasi pada daerah yang konon ditaklukkan Gajah Mada. Hal ini menjadi sebuah tanda akan superioritas satu suku terhadap suku lain.
Dalam kerangka kebangsaan kita, semua suku harus duduk sama rendah dan berdiri sama tinggi. Semua bahasa dan kearifan lokal harus dihargai, demi membangun generasi bangsa yang menghargai perbedaan dan tidak kehilangan jati diri. Bukan menonjolkan sumpah-sumpahan yang tidak lebih berakar dari hasrat invasi (imperialisme tradisional) belaka.

Kita bersyukur, tumbangnya rezim Orde Baru 1998 membawa berkah di sektor pendidikan. Materi dan metode pengajaran untuk anak didik lebih cerdas. Bahkan, dengan adanya Kurikulum Muatan Lokal, peluang anak bangsa yang jauh dari pusat kekuasaan, dapat mengelola sendiri bahan pengajarannya. Sehingga menjadi peluang untuk proses transformasi nilai-nilai kebudayaan dan kesejarahan khususnya Bone.
Revitalisasi kebudayaan dan kesejarahan tentu kita tidak bebankan hanya pada sektor pendidikan formal dengan penjenjangannya (Pendidikan Dasar, Menengah dan Tinggi) semata. Tapi juga pendidikan Informal dan Non Formal.
Disinilah pentingnya agar semua pihak dapat bekerja sama dan bersinergi untuk merevitalisasi kebudayaan dan kesejarahan. Di lain sisi pihak pengambil kebijakan sehubungan dengan pendidikan dapat mentransformasikan nilai-nilai tersebut melalui pendidikan formal.
Pendidikan Sejarah dan Kebudayaan nantinya harus menyelaraskan materinya dengan perkembangan aspek kognitif, afektif dan psikomotorik kepada peserta didik dengan tetap memperhatikan aturan-aturan yang ada
Pengembangan materi Pendidikan Sejarah dan Kebudayaan tetap mesti mengacu pada prinsip pengembangan silabus, seperti yang dipaparkan Bambang Suhendro dkk dalam bukunya Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan, seperti Ilmiah, Relevan, Sistematis, Konsisten, Memadai, Aktual dan Kontekstual, Fleksibel dan Menyeluruh.
Agar lebih efektif, selayaknya pendidikan diarahkan pada perkembangan kecerdasan spiritual. Sehingga nilai-nilai kebudayaan tidak sekedar menjadi pengetahuan kognitif bagi peserta didik. Jalaluddin Rahmat (2007:33-34) menulis:
Pendidikan harus meletakkan anak didik pada proses dialektik sejarah yang panjang. Ia harus dapat mengantarkan anak melalui berbagai tingkat kesadaran. Tidak boleh ada satu tahap kesadaran yang dinafikan. Salah satu diantara tahap kesadaran – yang selama ini justru dikesampingkan dalam sistem pendidikan kita – adalah kesadaran mistik, kesadaran akan sesuatu yang bersifat ruhaniah
Untuk menyelaraskan antara sisi kesejarahan dan kebudayaan Bugis Bone dengan pembangunan generasi muda Bone sektor pendidikan pada aspek intelektual yang berkaitan dengan spiritual, adalah hal yang tidak mudah. Perlu kerja keras berbagai pihak yang ada untuk bekerjasama dan mulai berbuat untuk masa depan Kabupaten Bone.
Dengan demikian, upaya ini tidak hanya sekedar romantisme semu akan besarnya sejarah dan budaya yang tak lama lagi hilang ditelan arus budaya konsumerisme. Akan tetapi transformasi nilai dan penerapannya menjadi proses pembentukan manusia Bugis Bone yang siap menghadapi era global tanpa harus kehilangan identitas .

Tawaran Metode Agar revitalisasi kebudayaan dan kesejarahan dapat bersinergi dengan sektor pendidikan maka perlu dibuat metode. Adapun tawaran kami sebagai berikut
a. Pembentukan TimTim dibentuk dari berbagai pihak antara lain, pihak pemerintah daerah melalui Dinas Pendidikan, Dinas Pemuda Olahraga Seni dan Budaya, Sekolah dan Komite Sekolah yang terkait. Kemudian pihak tokoh adat dan tokoh masyarakat Bone, serta pihak Lembaga Kebudayaan dan LSM. Pembentukan tim ini kemudian ditindak lanjuti dengan pembagian job description, penetapan skedul dan sebagainya
b. RisetDari skedul dan pembagian job description yang ditetapkan sebelumnya, tim melakukan pengumpulan data dan menganalisis data. Pada tahap ini, dilakukan penelitian akurasi (validitas) data dan efek-efek yang mungkin ditimbulkan. Diusahakan agar ada transformasi nilai dari data tersebut sesuai dengan kepentingan pendidikan.
c. Penyusunan BahanSetelah melewati proses seleksi bahan ajar (berdasar muatannya kepada tingkat pendidikan peserta didik) maka disusun silabus dan buku sebagai acuan berikut tujuan instruksional dari tiap materi pengajaran. Dan yang tak kalah penting adalah penyesuaian materi dan metode dengan standar pendidikan yang berlaku.
d. Sosialisasi dan PenerapanPemerintah Daerah melalui Dinas Pendidikan Kabupaten Bone bekerja sama dengan pihak Sekolah menetapkan Mata Pelajaran “Sejarah dan Kebudayaan Bugis Bone” dari tingkat pendidikan dasar hingga pendidikan tinggi dan melakukan pelatihan kepada guru dan dosen. Pelatihan ini dimaksudkan agar tenaga pengajar lebih mampu menguasai materi dan mentransformasikan pada peserta didiknya.

Penutup Adalah penting bagi semua pihak untuk bersama-sama menyelamatkan kebudayaan kita serta menjadikan warisan sejarah sebagai spirit ditengah pertarungan di era global saat ini. Selain penyelamatan aset sejarah dan budaya, perlu juga diadakan transformasi dan sosialisasi nilai melalui berbagai jalur pendidikan dalam rangka pembentukan generasi muda yang siap menghadapi era global tanpa mesti kehilangan identitas sebagai manusia bugis Bone
Pendidikan, sebagai hal yang sangat penting dalam proses pembentukan jati diri selayaknya memainkan peran aktif dalam proses ini. Pada jalur pendidikan formal, menggagas pelajaran pendidikan sejarah dan budaya Bugis Bone sebagai kurikulum muatan lokal adalah hal yang layak untuk dipertimbangkan. Pada jalur pendidikan informal, semestinya tiap keluarga menjaga anggotanya dari tayangan yang tidak mendidik (tayangan sampah) seperti infotainment, sinetron dan sebagainya. Dan menggencarkan pesan-pesan moral pada generasi muda. Pada jalur non formal, hendaknya ada media yang senantiasa mengangkat sejarah dan budaya Bugis Bone kepermukaan, sehingga tidak tenggelam oleh pergeseran zaman.
Kita tidak dapat berharap kepada suku bangsa lain untuk menjaga warisan leluhur kita yang begitu tinggi. Karena hanya pewaris saja yang dapat menjaga dan melestarikan warisannya. Kita tidak dapat menunda lebih lama. Karena aset-aset sejarah semakin hari semakin rusak dan tokoh budaya mesti diregenerasi sesuai hukum alam. Kita tidak dapat tinggal diam melihat generasi muda yang kehilangan identitas dan jati diri. Kita harus berbuat seefektif dan seefisien mungkin dalam waktu singkat. Sebelum kerusakan yang lebih parah melanda aset sejarah dan budaya serta generasi muda kita.
Semoga ikhtiar kita dari berbagai pihak, dari Pemerintah Daerah, Dinas Pendidikan, Tenaga Pengajar, Tokoh Adat dan Masyarakat, LSM, Pers, Mahasiswa, Lembaga Kebudayaan, dan sebagainya, dapat bersinergi untuk masa depan masyarakat Bone yang lebih baik dan diberkahi oleh Allah SWT. Wallahu A’lam Bishshowab.

Daftar Bacaan

Abdullah, Irwan. Prof. Dr “Konstruksi dan Reproduksi Kebudayaan” – Pustaka Pelajar. Yogyakarta. 2006
Ali, Andi Amriadi “Sekitar Nilai-Nilai Demokrasi Pada Empat Etnis di Sulsel “– (FIK-LSM) Sulawesi Selatan dan Yappika, Makassar, 1999
Andaya, Leonard “Warisan Arung Palakka : Sejarah Sulawesi Selatan Abad ke 17” – Penerbit Ininnawa. Makassar, 2004
Hutington, Samuel “Benturan Antar Peradaban dan Masa Depan Politik Dunia” – Qalam. Yogyakarta, 2005
Kambie, A.S “Akar Kenabian Sawerigading : Tapak Tilas Jejak Ketuhanan Yang Esa Dalam Kitab I Lagaligo (Sebuah Kajian Hermeneutik)” – Parasufia, Makassar. 2003
Liliweri, Alo Dr.M.S “Dasar-Dasar Komunikasi Antar Budaya” – Pustaka Pelajar. Yogyakarta. 2002
Mattulada, Prof. Dr “Latoa : Satu Lukisan Analitis terhadap Antropologi Politik Orang Bugis” – Hasanuddin University Press. Makassar. 1995
Muththari, Murtadha “Manusia dan Sejarah” – Penerbit Mizan. Jakarta. 1997
Nur, M. Rafiuddin “Lontara na Mario ri Wawo : Soppeng dari Pattoriolong hingga Pangadereng” – Rumah Ide. Makassar. 2003
Pelras, Christian “Manusia Bugis” – NALAR bekerjasama dengan Forum Jakarta-Paris. Jakarta. 2006
Rahmat, Jalaluddin “SQ For Kids : Mengembangkan Kecerdasan Spiritual Anak Sejak Dini” – Mizan. Bandung. 2007
Suhendro, Bambang dkk “Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan” – PT. Binatama Raya. Jakarta. 2007
Zainal Abidin Andi, Prof. Mr. Dr “Wajo Abad XV-XVI : Suatu Penggalian Sejarah Terpendam Sulawesi Selatan Dari Lontara” – Alumni. Bandung. 1985


* Disampaikan dalam kegiatan Seminar Pendidikan dengan Tema : Relasi Pendidikan dan budaya Lokal untuk menciptakan generasi yang handal dalam menghadapi hantaman arus globalisasi, yang diadakan
pada tanggal 8 Agustus 2010 di Aula Pesantren Biru
Jalan Biru Watampone

Memancing Merupakan Unsur Meditasi

Labaco rela duduk berlama-lama tak peduli sengat matahari, tatapan matanya kesatu arah. Kalau  ditanya mengapa ia rela menunggu berlama-lama untuk mendapatkan seekor ikan pada saat memancing, padahal banyak ikan dijual dipasar, tetanggaku berkata : “Banyak ikan dijual dipasar,tapi tak satupun pasar yang menjual tarikannya ikan”.

Tarikan ikan sewaktu strike, adalah suatu sensasi tersendiri. Sensasi yang membuat kita ingin selalu mengulangnya. Dan sensasi mancing inilah yang menjadi seni, karena didalamnya ada proses, teknik dan hasil.

Seperti halnya sepakbola, orang yang tidak mengerti proses dan seni sepak bola akan berkata “ Mengapa 22 orang berlarian mengejar bola untuk ditendang?”. Seperti halnya banjir, orang yang tidak mengerti proses dan seni banjir akan berkata “Wah banjir lagi, berarti harus sumbang mie instant lagi”. Padahal bagi orang yang mengerti seni dan proses sepak bola, pertarungan untuk memperebutkan bola, umpan satu dua, umpan panjang, tekling dan sebagainya adalah sensasi. Seperti halnya bagi orang yang mengerti seni dan proses banjir akan berkata “Banjir, waktunya dapat duid, ikan dan rekreasi”. Sebab sensasi banjir terletak pada wahana rekreasi gratisnya ditambah melimpahnya ikan.

Kembali ke memancing, memancing terjadi karena adanya kerja sama antara pemancing dan terpancing. Walaupun banyak ikan yang mau dipancing tapi tak ada pemancing, maka pemancingan pun tak terjadi. Begitupun sebaliknya, walaupun pemancing melengkapi dirinya dengan alat pancing termodern tapi ikannya tidak mau dipancing, maka dapat dipastikan bahwa pemancingannya akan menghasilkan kekecewaan sebab ketiadaan sensasi tarikan ikan.

Untuk menghasilkan pemancingan yang sukses maka mestilah menyesuaikan antara pihak pemancing disatu sisi dan terpancing disisi lain. Ikan sebagai person terpancing, hendaklah diketahui rutinitas hidupnya, selera makannya serta taman bermainnya. Misalnya waktu sarapan, lunch dan dinnernya ikan hendaklah diketahui. Begitupun menu favoritnya. Juga tempat favoritnya. Dengan menyelaraskan waktu memancing dengan waktu makan ikan, umpan dengan menu favorit ikan, lokasi (spot) mancing dengan tempat favorit ikan, maka pihak pemancing telah menyiapkan dirinya untuk mendapatkan sensasi pancingan.

Ketika kita duduk memegang jor/stik pancing, terkadang tak lama setelah umpan dilepas langsung disambar ikan. Terkadang juga membutuhkan waktu lama untuk bisa disambar ikan. Ketika para pemancing disamping kita telah mengangkat beberapa ekor hasil pancingannya namun kita belum mengangkat seekorpun, maka sebenarnya kita melatih sisi kesabaran dan mencegah iri hati. Bukankah banyak persoalan didunia ini disebabkan oleh kekurang sabaran dan iri hati ?

Memancing, akan menyadarkan kita bahwa kita adalah puncak pada rantai ekosistem. Betapa Tuhan telah menciptakan kita sebagai predator alami. Seekor udang atau cacing kita pasang di mata kail yang dimangsa ikan. Setelah itu kita pun yang memangsa sang pemangsa. Kitalah pemangsa tertinggi. Dan memancing, merupakan wahana meditasi untuk mendapatkan kesadaran itu. Sebab pengetahuan bahwa manusia sebagai puncak rantai ekosistem umumnya hanya menyentuh sisi kognitif kita, jarang menyentuh sisi afektif.
Memancing, sangat tepat bagi mereka yang berpenyakit tekanan darah tinggi. Agar relaksasi memancing berefek terhadap normalnya tekanan darah yang bersangkutan. Memancing juga tepat bagi mereka yang merasa sering bertindak gegabah, sebab mancing dapat melatih kesabaran. Memancing juga tepat bagi orang yang sering iri hati, agar tidak cemburu atas prestasi pemancing lain yang lebih hebat. Memancing juga tepat bagi orang yang bermental mie instant, karena memancing melatih kita lebih memahami proses.

Namun memancing tidak tepat bagi pria metropolis atau perempuan modis, sebab akan membuat kulit mereka lebih hitam. Sebuah stigma negatif tentang warna kulit yang sangat berbau rasis.

Mengapa Sejarah Harus dipelajari?

PERSPEKTIF DALAM MEMANDANG SEJARAH

Setidaknya, ada dua perspektif dalam memandang sejarah. Pertama, sejarah secara ilmiah. Yaitu penikmat atau pemerhati sejarah berdiri netral dalam mengkaji sejarah. Pemerhati sejarah pada konteks ini, melepaskan diri dari kepentingan tertentu, seperti politik, pencitraan atau sejenisnya. Sebelum pemerhati sejarah memulai kajiannya, maka ia terlebih dulu menghilangkan asumsi-asumsi positif atau negatif yang mengarah pada keberpihakan tokoh sejarah. Sejarah, pada konteks ini tidak memosisikan benar salah pada pelaku sejarah.



Pemerhati sejarah akan berusaha mengumpulkan semua sumber sejarah, baik primer maupun sekuder. Kemudian mengkomparasi antara sumber-sumber sejarah yang ada. Kemudian menganalisis berdasar hukum-hukum kausalitas peristiwa sejarah tersebut. Sejarah dianggap bergerak dinamis akibat hasrat ekonomi dan politik individu atau masyarakat. Sehingga, analisis ekonomi politik selalu digunakan dalam kronologi pada sejarah.

Dalam mengkaji dokumen sejarah, selain ilmu-ilmu standar macam filologi, juga dibutuhkan pemahaman tentang analisa wacana. Sebab, meski sebuah naskah tergolong valid, namun sang penulis sejarah bisa saja memiliki maksud tersirat dibalik teks-teks yang disusunnya. Sehingga perlu bagi pembaca sejarah memahami, apa maksud tersembunyi dari penulis sejarah. Analisa wacana juga dibutuhkan dalam menganalisis tradisi tutur masyarakat.

Kelemahan mendasar perspektif ini adalah, sejarah akan hambar. Sejarah tak lebih rantai kausalitas belaka yang membentuk masa kini dan referensi untuk membangun masa depan. Sejarah tidak menyentuh jiwa penikmatnya. Namun kelebihannya adalah, kesimpulan-kesimpulan yang dihasilkan akan lebih akurat dan lebih jujur dalam memandang kehidupan.

Perspektif kedua yaitu sejarah secara psikologis. Pada konteks ini, penikmat atau pemerhati sejarah akan berpihak pada satu kelompok atau tokoh sejarah. Sejarah dipandang sebagai modal sosial yang mampu membangun semangat, kerekatan sosial serta keseragaman berpikir. Namun disisi lain, dapat menimbulkan sentimen, keretakan sosial serta penolakan terhadap penyeragaman berpikir.
Pada konteks ini, fakta-fakta sejarah yang ril, ditafsirkan sesuai kepentingan yang diinginkan. Jika ada fakta sejarah dianggap kurang menarik, maka akan disembunyi dan ditutup rapat-rapat. Tidak jarang, bukti sejarah bahkan dihilangkan.

Kelebihan perspektif ini adalah mampu membangun psikologi massa yang nantinya menjadi modal sosial yang mampu menggerakkan masyarakat. Namun kekurangannya, dapat menciptakan sentimen negatif pada tokoh/kelompok yang diposisikan antagonis. Sehingga dapat menjadi potensi konflik.

Pertanyaan mendasar bagi kita semua adalah, apa kepentingan kita dalam membahas sejarah ? Apakah hanya untuk sekedar tahu peristiwa masa lalu ? Atau ada maksud terselubung yang bisa dimanfaatkan secara politis nantinya ? Namun terlepas dari itu semua, niat akan mempengaruhi sikap dan tindakan kita. Itu pasti.

 
Debugis | World | News
Copyright © 2011. Debugis - All Rights Reserved
Spesialis Admin Tim Work Login
Proudly powered by Administrator